Daan Mogot
Akademi
Militer Tangerang diprakarsai oleh seorang pemuda bernama Daan Mogot pada
tanggal 5 Nopember 1945. Beliau kemudian dilantik menjadi direktur
pertama.
Daan Mogot gugur dalam "Peristiwa Lengkong." Peristiwa ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan perlucutan senjata pasukan Jepang di berbagai daerah, namun satu-satunya yang berakhir dengan jatuhnya korban dalam jumlah besar.
Perlucutan senjata dan pemulangan tentara Jepang ditempuh berdasarkan kesepakatan 30 Nopember 1945 antara pemerintah RI dan pasukan sekutu. Usai salat Jumat, 25 Januari 1946, sepasukan taruna Akademi Militer Tangerang dan tiga perwira Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berangkat menuju Lengkong, Serpong, menumpang tiga truk dan sebuah jip militer dari Resimen IV Tangerang.
Mereka tiba di markas Jepang di Lengkong pukul 16.00. Tugas damai itu mulanya lancar-lancar saja. Di luar dugaan, pasukan TKR dan taruna diberondong tembakan dari pos-pos mitraliur tersembunyi.
Pertempuran berlangsung singkat dan tak seimbang. Akhirnya, 33 taruna dan tiga perwira gugur, yakni Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo, Letnan Soetopo, dan Mayor Daan Mogot. Seorang perwira lainnya, Mayor Wibowo, menjadi tahanan pasukan Jepang. Lebih dari 10 taruna luka berat dan 20 lainnya ditawan, hanya tiga taruna yang berhasil lolos dan tiba di Markas Komando Resimen TKR Tangerang keesokan harinya.

